gNews.co.id – Publik Morowali Utara (Morut) diguncang kabar duka sekaligus tanda tanya besar atas meninggalnya Rudin (20), seorang pemuda yang disebut kehilangan nyawa usai menjalani operasi amandel di RSUD Kolonodale.
Pihak rumah sakit akhirnya angkat bicara di tengah desakan klarifikasi dari keluarga dan masyarakat, Minggu (15/2/2026).
Direktur RSUD Kolonodale, Sherly Pede secara resmi menyampaikan belasungkawa mendalam dan memberikan penjelasan medis terkait rangkaian peristiwa yang berujung pada meninggalnya sang pasien.
Klarifikasi RSUD: Tindakan Sesuai Prosedur
Dalam keterangan resminya, Sherly menegaskan bahwa pihaknya telah melakukan prosedur sesuai standar operasional yang berlaku.
“Pertama-tama, kami menyampaikan ungkapan turut berdukacita yang mendalam kepada keluarga almarhum,” ungkap Sherly.
Ia menjelaskan bahwa sebelum operasi, pasien telah menjalani pemeriksaan menyeluruh, termasuk pemeriksaan penunjang, untuk memastikan kelayakan tindakan.
Salah satu poin yang menjadi sorotan keluarga adalah lamanya waktu operasi yang disebut mencapai delapan jam.
Terkait hal ini, manajemen RSUD memberikan klarifikasi bahwa durasi operasi yang panjang merupakan kondisi yang kadang terjadi dan tidak bisa diprediksi.
“Terkait proses operasi yang memakan waktu cukup panjang, hal seperti ini adalah kondisi yang kadang terjadi terhadap pasien. Penyebabnya tidak diketahui secara pasti karena kondisi setiap pasien tentu berbeda-beda,” katanya..
Menurut manajemen rumah sakit, operasi dinyatakan selesai dengan kondisi pasien stabil. Rudin kemudian dipindahkan ke ruang ICU untuk observasi pascatindakan.
Setelah beberapa hari dirawat dan kondisinya dinilai stabil, pasien dipindahkan ke ruang perawatan biasa.
Perdarahan Mendadak dan Upaya Penyelamatan
Insiden kritis terjadi saat Rudin berada di ruang perawatan bedah. Pasien tiba-tiba mengalami perdarahan. Pihak RSUD menyatakan bahwa tindakan pertolongan segera dilakukan, termasuk pemberian transfusi darah.
Dokter yang menangani juga mempertimbangkan untuk merujuk pasien ke RSUD Undata Palu yang memiliki fasilitas lebih lengkap.
Proses rujukan melalui sistem SISRUTE pun telah dilakukan. Namun, berdasarkan respons dari rumah sakit tujuan, pasien diminta untuk distabilkan terlebih dahulu sebelum dapat dirujuk.
“Setelah perdarahan tertangani dan transfusi selesai dilakukan, pasien kembali dipindahkan ke ICU untuk stabilisasi. Di ICU pun pasien tetap mendapatkan transfusi,” jelas Sherly.
Situasi kembali memburuk pada Minggu pagi. Pasien dilaporkan mengalami batuk disertai perdarahan hebat.
Tim medis segera melakukan upaya penanganan, namun nyawa Rudin tidak dapat diselamatkan. Ia mengembuskan napas terakhir sekitar pukul 09.44 WITA.
Keluarga Pasien: Operasi Ringan Berjam-jam, Pertanyaan Besar Menggantung
Di sisi lain, Yusrin Elbana, perwakilan keluarga, mengungkapkan duka sekaligus kegalauan. Ia menyebut Rudin adalah keponakan tercinta yang ibunya meninggal saat melahirkan dirinya.
“Kami sekeluarga ikhlas, tapi ada tanda tanya besar. Operasi amandel yang katanya ringan, kok bisa sampai berjam-jam? Kenapa pasien dibiarkan menahan sakit dan mengalami perdarahan hebat, bahkan memuntahkan darah segar?” ungkapnya.
Baca: KTU RS Kolonodale Ditengarai Tolak Permintaan Keluarga Pasien Pakai Ambulans: Sangat Mengecewakan!














Komentar