gNews.co.id – Proyek strategis Pemkab Tolitoli, yakni Revitalisasi Ruang Terbuka Hijau (RTH) Tanjung Batu, menjadi sorotan publik setelah progres fisiknya hanya mencapai 32 persen dari target 100 persen.
Proyek senilai Rp1,3 miliar yang dikerjakan CV Tolis Perkasa ini menuai kritik karena dikhawatirkan tidak selesai tepat waktu dan berpotensi memengaruhi kualitas hasil akhir.
Berdasarkan data pelaksanaan, kontrak proyek yang berjalan selama 100 hari kalender ini hingga hari ke-61 hanya menunjukkan bobot fisik sebesar 32 persen.
Dengan tenggat waktu berakhir pada 11 Desember 2025, tersisa kurang dari 40 hari untuk menyelesaikan sekitar 68 persen pekerjaan.
Kepala Dinas Perumahan Rakyat dan Kawasan Permukiman (Perkim) Tolitoli, Syafruddin A Rahman, membenarkan adanya keterlambatan, meski menyebut deviasinya tidak signifikan.
Ia menyatakan bahwa pengerjaan tahap finishing akan menjadi penentu penyelesaian proyek.
“Insya Allah bisa selesai tepat waktu. Pekerjaan RTH Tanjung Batu tidak terdampak banjir,” ujar Syafruddin, Ahad (2/11/2025).
Namun, Dia tidak menutup kemungkinan dilakukan addendum atau perubahan kontrak, asalkan alasannya dapat diterima.
“Adendum selalu bisa dilakukan, baik penyesuaian pekerjaan di lapangan maupun waktu,” katanya.
Dikerjakan Saat Hujan, Kualitas Dipertanyakan
Sorotan lain datang dari metode pengerjaan yang dilakukan di saat hujan deras.
Beberapa warga dan anggota DPRD Tolitoli, Rihard Adrianto atau Didi, menyayangkan hal tersebut karena berpotensi menurunkan kualitas konstruksi.
“Proyek strategis, tapi dikerjakan saat hujan deras. Itu dapat memengaruhi kualitas konstruksi. Bisa terjadi kerusakan dini,” ujar seorang warga.
Baca: Proyek RTH Tolitoli, Mengapa Bupati Terkesan Kurang Nyaman Nama Bolong Diseret?








Komentar