Serakahnomics: Ketika Setan Ekonomi Merangsek Tambang Emas di Parigi Moutong

Di Kabupaten Parigi Moutong, tinta emas yang mengalir dari kedalaman bumi tidak pernah berubah menjadi tinta kesejahteraan yang menuliskan masa depan cerah bagi warganya.

Oleh: Dedi Askary

Sebaliknya, aliran itu kerap bercampur racun, menghitamkan sungai, dan menggerogoti sendi-sendi kehidupan masyarakat. Pertambangan Emas Tanpa Izin (PETI) di wilayah ini bukan lagi sekadar pelanggaran administratif atau bencana ekologis lokal. Ia adalah manifestasi nyata dari apa yang saya sebut sebagai Serakahnomics sebuah mekanisme ekonomi predator yang dibangun di atas reruntuhan hukum dan ruang hidup rakyat, demi akumulasi modal yang tak pernah puas.

1. Anatomi Kapitalisme Bayangan

Serakahnomics tidak selalu hadir dalam balutan jas rapi dan gedung pencakar langit. Di Parigi Moutong, ia menjelma sebagai jejaring kapitalisme bayangan yang bersimbiosis dengan kekuasaan. Di permukaan, yang terlihat hanyalah para penambang tradisional dengan tubuh berlumur lumpur. Namun, di balik hiruk-pikuk mesin dompeng dan ekskavator, berdiri kokoh para pemodal besar—para konglomerat gelap yang mengendalikan aliran dana, logistik alat berat, dan yang paling penting, lini pertahanan birokrasi dan hukum.

Model bisnis ini bekerja dengan satu strategi utama: eksternalisasi biaya. Mereka tidak pernah membayar royalti, pajak, atau biaya reklamasi. Biaya sosial dan lingkungan dibuang begitu saja menjadi utang ekologis yang harus dibayar oleh warga Parigi Moutong dan generasi yang akan datang. Ini bukan lagi bisnis, ini adalah penjarahan nilai publik untuk keuntungan privat yang terstruktur dan sistematis.

2. Mekanisme Penghancuran Ekologis yang Tak Terpulihkan

Dampak Serakahnomics bukan hanya angka dalam laporan statistik, melainkan racun yang menyusup dalam denyut nadi alam. Penggunaan merkuri (Hg) dan sianida secara masif di wilayah seperti Kayuboko hingga Air Panas menciptakan kerusakan yang bersifat irreversible.

Merkuri yang dialirkan ke sungai-sungai kita tidak lantas hilang. Melalui proses metilasi, ia berubah menjadi metilmerkuri, sebuah senyawa super toksik yang mengalami bioakumulasi dalam tubuh biota air. Ikan yang menjadi sumber protein murah bagi warga sekitar berubah menjadi kapsul racun waktu. Ketika itulah, hak atas pangan dan hak atas kesehatan warga dikhianati.

Lebih dari itu, pengerukan liar pada tebing dan bantaran sungai di wilayah tektonik aktif seperti Sesar Palu-Koro adalah sebuah eksperimen kematian yang disengaja. Risiko likuefaksi dan tanah longsor meningkat secara eksponensial. Derakahnomic sejatinya sedang menggali kuburan massal atas nama logam mulia.

3. Kekerasan Struktural di Balik Ilusi Kesejahteraan

Srakahnomic adalah penipu ulung. Ia menciptakan ilusi kesejahteraan dengan mempekerjakan warga lokal sebagai buruh tambang. Namun, di balik upah harian yang diterima, tersimpan kekerasan struktural yang mendalam.

Baca: Mengurai ‘Serakanomics’ di Parigi Moutong: Krisis Kepercayaan dan Tumpulnya Penegakan Hukum PETI

Komentar