Hidayat mengaku masih banyak cita-cita dan harapannya untuk pembangunan Kota Palu belum tercapai.
“Tadinya saya berpikir saya ingin menjadi masyarakat biasa saja. Saya sebenarnya mau kolaborasi dengan pemerintah, namun tidak bisa,” ujar Hidayat.
Menurutnya, pemerintah saat ini, mestinya memberikan perhatian yang lebih untuk mendorong ekonomi kecil agar bisa tumbuh.
Kota Palu yang memiliki keterbatasan lahan pertanian, mestinya didorong menjadi kota jasa.
“Jasa lebih besar pemasukannya ke PAD. Kita fokus menjual jasa. Tinggal saat ini bagaimana pemerintah menarik minat orang agar tertarik datang ke Kota Palu,” katanya.
Hidayat berpendapat, ada banyak titik-titik potensi di dalam kota Palu yang bisa dibangun agar orang tertarik ke Palu.
“Dulu saya sudah buatkan master plant untuk beberapa titik. Misalnya jalan teluk Palu sepanjang 10 km, Taman hutan Talise, kemudian di Salena ada sekian hektar yang bisa dibuat untuk camping ground,” jelasnya.
Hidayat sedikit mengkritisi Pemkot Palu yang saat ini menaikkan pajak/retribusi ke masyarakat.
Kebijakan itu menurutnya, tidak tepat karena rehabilitasi dan rekonstruksi pemulihan ekonomi masyarakat pasca bencana belum sepenuhnya selesai.
“Saya tidak tahu apa dalil pemerintah, sehingga menaikkan PBB, retribusi sampah pajak, dan retribusi parkir,” jelas Hidayat.














Komentar