Para cukong tersebut merasa tidak nyaman dengan perilaku oknum tersebut yang tidak menggaransi keamanan mereka bekerja di lokasi PETI Lobu.
“Jadi para donatur ini yang lain keberatan dengan Dia (oknum APH) karena baru satu minggu lalu dia japre (setor uang) karena kemarin itu baru dikasih turun alat. Pokoknya satu unit Rp30 juta. Pokoknya di atas itu ada 47 (unit alat berat),” tutur sumber.
Dia mengatakan, baru sekitar satu minggu alat berat bekerja oknum APH perintahkan para cukong untuk segera turunkan alat berat karena ada penertiban oleh aparat gabungan dari Kota Palu.
Sumber juga menyebut, aktivitas PETI tak hanya Desa Lobu, tapi hingga kini Desa Lambunu ditengarai 9 alat berat juga sedang beroperasi menggasak hutan dan bantaran sungai untuk aktivitas PETI.
“Dengan terjadinya aliran lumpur di Sungai Lambunu akibat kegiatan PETI di atas bendungan irigasi tepatnya di Desa Tirta Nagaya areal Gunung Duyung dan Gunung Durian dll (dan lain-lain),” tulis sumber.
Informasi terbaru yang dihimpun Tim Media dari sumber mengungkap para cukong kembali menggerakkan alat berat mereka di lokasi PETI Lobu untuk beroperasi yang diduga atas arahan dari pimpinan APH.
“Dorang (mereka) itu keluarga dengan bos komandan di Parigi. Bapak paham sendiri saja siapa bos yang saya maksud, makanya pendana ini kerja lagi di lokasi,” ungkap sumber, Jumat (27/9/2024).
Sumber ini enggan menyebut secara rinci siapa bos yang dimaksud, Dia tak mau mengungkap siapa saja APH dan aparat lainnya, dan aparat desa yang diduga diduga terlibat transaksi kotor PETI di wilayah Kabupaten Parigi Moutong, khususnya PETI Lobu dan Lambunu.














Komentar