Bukit Salena: Potensi Ikon Olahraga Dirgantara di Sulteng Berbasis Kearifan Lokal

Di atas bukit yang menjulang di sisi Kota Palu, bukan hanya angin yang bertiup stabil sepanjang tahun.

Oleh: Suaib Djafar

Di sana, ada peluang yang mengudara: potensi Bukit Salena untuk menjelma menjadi ikon olahraga dirgantara nasional, khususnya paralayang, dengan fondasi yang kokoh pada kearifan lokal masyarakat Sulawesi Tengah.

Secara teknis, Bukit Salena adalah anugerah alam yang hampir sempurna. Ketinggian, kontur landai untuk lepas landas, dan pola angin yang konsisten menjadikannya arena latih dan kompetisi yang ideal.

Pilot paralayang tidak hanya akan menemukan medan yang menantang, tetapi juga panorama spektakuler Teluk Palu dan bentang alam Sulawesi Tengah yang memukau. Namun, nilai lebih Bukit Salena tidak berhenti pada parameter geografis semata.

Esensi pengembangan yang berkelanjutan justru terletak pada kemampuan memadukan potensi alam tersebut dengan filosofi hidup masyarakat Kaili, pemilik asli ranah ini. Dalam kearifan lokal Kaili, alam bukanlah objek untuk ditaklukkan, melainkan ruang hidup yang harus dijaga keselarasannya.

Prinsip Tonda Talusi (Tokoh Adat, Agama dan Pemerintah) serta Tina nuada yang menekankan harmoni dan keseimbangan antara manusia dan alam, menjadi jiwa yang harus menaungi setiap aktivitas di Bukit Salena. Olahraga dirgantara di sini dapat diartikan bukan sebagai usaha menaklukkan angin, melainkan sebagai bentuk dialog, penghormatan, dan penyelarasan diri dengan kekuatan alam yang telah tersedia.

Oleh karena itu, pengembangan Bukit Salena sebagai ikon olahraga dirgantara harus mengedepankan model partisipatif yang melibatkan masyarakat secara aktif dan bermakna.

Masyarakat bukan sekadar penonton, tetapi menjadi penjaga lingkungan, pemandu lokal yang memahami seluk-beluk bukit dan ceritanya, serta pengelola usaha pendukung yang berbasis ekonomi kreatif.

Nilai sintuvu (kebersamaan) dan vunja (gotong royong) dalam budaya Kaili dapat menjadi penggerak utama pengelolaan kawasan. Dengan pola ini, kemajuan Bukit Salena akan dirasakan sebagai pencapaian kolektif yang melindungi ekosistem dan memberdayakan komunitas.

Dari perspektif yang lebih luas, integrasi olahraga dirgantara dengan kearifan lokal membuka pintu lebar untuk sport tourism yang unik dan berkelanjutan.

Event paralayang bertaraf nasional atau internasional tidak hanya memamerkan keindahan alam, tetapi juga dapat menjadi panggung budaya.

Baca: Command Center adalah Complain Handeling Pemprov Sulteng: Menunggu Satu Dekade Anwar Hafid Berani Wujudkan

Komentar