Namun, Abdul Rachman bercerita, setelah mereka meninggalkan lokasi, Ia menuding justru orang – orang Akhmad Sumarlin yang melakukan aktivitas dan berhasil mengeluarkan puluhan ton material ke luar daerah.
Yang lebih menyakitkan, kata dia, setelah WPR yang sejak awal mereka perjuangkan bersama dengan APRI, koperasi Arung Punggawa, serta kawan – kawan lainnya, tiba – tiba Akhmad Sumarlin dengan mengatasnamakan PT SMS membentuk puluhan koperasi.
Dan saat ini, dengan semua kekuatan dan pengaruhnya di tingkat provinsi berusaha menguasai WPR itu, tentu saja warga Oyom tidak akan membiarkan.
Menurut Abdul Rachman, kalau benar Ahmad Sumarlin mau melakukan pilot project, mengapa yang tidak pernah menyosialisasikan dengan koperasi – koperasi yang sudah ada.
“Bukannya justru membuat puluhan koperasi baru yang pada akhirnya menimbulkan perpecahan di kalangan masyarakat,” jelas Abdul Rachman.
Diberitakan sebelumnya, pernyataan Direktur Utama (Dirut) PT Sulteng Mineral Sejahter (SMS), Akhmad Sumarlin terkait sinergitas dengan DPC APRI Tolitoli berbuntut panjang.
Seperti diketahui, Ahmad Sumarlin menyatakan di salah satu media bahwa sudah ada Surat Keputusan (SK) kepengurusan Responsible Mining Community (RMC) sebanyak 23 kelompok masyarakat.
Kelompok itu beranggotakan sekira 450 orang, kemudian masyarakat adat Dondo.
Klaim dari pernyataan tersebut dibantah dengan tegas oleh Ketua DPC APRI Kabupaten Tolitoli, Venus AK Heidemans sebagaimana melalui Ketua Harian DPC APRI Tolitoli, Marwan.
Ia menuturkan sampai saat ini tidak pernah ada kerja sama antara PT SMS dan DPC APRI Tolitoli.








Komentar