Setiap penerbangan tandem dapat dikemas dengan narasi adat: setiap pelatihan atlet dapat diselingi dengan pengenalan seni tradisi dan kuliner khas Palu. Bukit Salena pun akan bertransformasi dari sekadar flying site menjadi pusat edukasi yang hidup tentang identitas Sulteng.
Menyongsong potensi ini, diperlukan komitmen bersama dari pemerintah daerah, pelaku olahraga, akademisi, dan tentu saja, masyarakat adat.
Perlu payung regulasi yang melindungi kelestarian kawasan, program pelatihan untuk meningkatkan kapasitas pemandu dan atlet lokal, serta strategi promosi yang menjual “paket lengkap” pengalaman: olahraga, alam, dan budaya.
Pada akhirnya, Bukit Salena menawarkan lebih dari sekadar medan paralayang yang ideal. Ia menawarkan sebuah model pembangunan yang humanis dan berkelanjutan. Di sini, teriakan semangat atlet yang meluncur ke langit dapat berpadu dengan lantunan mantra penghormatan pada alam.
Di sinilah olahraga dirgantara tidak hanya mencapai ketinggian, tetapi juga menemukan kedalaman makna, dengan berakar kuat pada kearifan lokal yang menjaganya. Bukit Salena siap menjadi ikon: menyongsong langit dengan menjunjung tinggi bumi.
Penulis adalah tokoh adat lokal Kaili sekaligus mantan Kepala Dinas Pariwisata
Baca: KAMPUS YANG DIRINDUKAN! Unforgettable Memories in My Live














Komentar