gNews.co.id – Peringatan Haul ke-57 Guru Tua, Sayyid Idrus bin Salim Aljufri ulama besar sekaligus pendiri Perguruan Islam Alkhairaat menjadi momen refleksi sekaligus napak tilas perjuangannya yang penuh ketulusan.
Ribuan Abnaul Khairaat hadir di Kompleks Perguruan Alkhairaat, Palu, menyimak testimoni haru dari Longki Djanggola, Anggota Komisi II DPR RI sekaligus saksi sejarah yang mengenal langsung sang guru.
Dalam kesaksiannya, Longki mantan Gubernur Sulawesi Tengah dua periode berbicara bukan sebagai politisi, melainkan sebagai anak muda yang pernah menyaksikan langsung pengabdian Guru Tua di tengah keterbatasan.
“Saya menyaksikan beliau memulai perjalanan dakwahnya hanya dengan gerobak sapi,” kenang Longki, suara bergetar.
Dakwah di Atas Gerobak: Keteladanan yang Tak Terlupakan
Longki menceritakan masa kecilnya di Palu, saat ia masih duduk di bangku SD hingga SMP.
Setiap sore, ia diperintahkan orangtuanya untuk mengisi gerobak Guru Tua dengan beras, gula, atau kebutuhan lain sebagai bekal dakwah.
“Itu saya lakukan dengan hati tulus. Guru Tua mengajarkan arti pengabdian tanpa pamrih,” ujarnya.
Ia juga mengenang kebiasaan Guru Tua membagikan tandan pisang sepulang berdakwah dari Pakuli.
“Itu simbol keikhlasannya. Beliau tak pernah meminta, justru memberi,” jelas Longki.
Keteguhan Hati di Tengah Keterbatasan
Longki mengisahkan keteguhan Guru Tua yang tak kenal lelah. Meski kerap sakit, sang ulama tetap menaiki gerobak dari Kamonji ke Pakuli demi menyebarkan ilmu.
“Tak ada keluhan, hanya tekad kuat untuk umat,” ungkapnya.
Hubungan Guru Tua dengan keluarga Longki pun sangat erat. Kakeknya, Magau Janggola (Raja Palu kala itu), adalah orang pertama yang menyambut kedatangan Guru Tua di Pelabuhan Wani.
Baca: Festival Raodhah dan Haul Guru Tua, Prof. Lukman: Warisan Beliau kepada Dunia









Komentar