Empat Tahun Pascagempa Dahsyat di Wilayah Palu, Sigi, dan Donggala

Juga beberapa merek beras yang sering dijual di Swalayan Alfamidi ditemukan berpindah ke pasar-pasar tradisional.

Yang lebih unik lagi pada umumnya terlihat pemandangan menarik karena ada sejumlah dapur masyarakat yang berpindah dari belakang rumah ke depan rumah karena masyarakat masih takut menggunakan dapur konvensional di dalam rumah takut sewaktu-waktu terjadi gempa susulan.

Juga akibat menyebarnya berita hoax bahwa akan ada lagi gempa yang lebih dahsyat dan menyebarnya kabar palsu (fake news) bahwa di banyak wilayah Kota Palu telah terdapat lumpur likuifaksi sehingga semakin banyak masyarakat yang takut dan melakukan eksodus besar-besaran mengungsi keluar dari wilayah PASIGALA.

Sebaliknya, dalam waktu hampir bersamaan patut diapresiasi dan diacungi jempol karena juga secara bersamaan ada ribuan relawan dan armada bala bantuan yang masuk ke wilayah terdampak untuk membantu meringankan beban dan duka masyarakat.

Sampai batas akhir masa tanggap darurat laporan resmi pemerintah mencatat korban meninggal 2086 jiwa, korban luka-luka 4.438, korban hilang 1075 orang, korban yang mengungsi 206.494 orang dan rumah atau bangunan lainnya yang terdampak 68.451 unit (Koran Kailipost, 27/10/2018).

Namun, dari laporan masyarakat terdampak diduga korban jiwa dan luka-luka masih jauh lebih banyak. Misalnya di tiga wilayah terdampak likuefaksi korban jiwa yang tertimbun lumpur dan belum sempat dievakuasi masih cukup banyak.

Baca: Korban Bencana Dapat Kabar Gembira Segera Miliki Hunian, Cudy Sebut di HUT Kota Palu 

Komentar