gNews.co.id,- Insiden kurang menyenangkan dialami wartawan gNews.co.id yang tergabung dalam Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) Banggai, Amrillah Mokoagow, saat meliput prosesi pelantikan pejabat di Kabupaten Banggai, Kamis (19/02/2026).
Amrillah menjelaskan, prosesi pelantikan yang dihadiri Amirudin dan Furqanuddin tersebut sejatinya berlangsung lancar dan tertib.
Bahkan, pihak protokoler melalui Kabag Humas Setda Banggai, Muhlis Pampawa, telah memberikan kesempatan kepada awak media untuk mengambil gambar lebih dekat saat prosesi penandatanganan berlangsung.
Di hadapan Bupati dan Wakil Bupati, Amrillah mengaku tetap menjaga etika peliputan dengan mengambil posisi di belakang pembawa acara demi menghormati jalannya kegiatan resmi tersebut.
Namun situasi berubah ketika dari arah pintu masuk, seorang ajudan diduga meneriakkan namanya dengan sebutan “Bri-bri” sambil menunjuk menggunakan telunjuk dan meminta dirinya mundur.
Saat itu, ia mengenakan rompi PWI sebagai identitas resmi wartawan yang sedang bertugas.
Saya diam karena menghormati jalannya pelantikan. Saya tidak ingin membuat kegaduhan dalam ruangan,” ujarnya.
Menurut Amrillah, pengaturan teknis di dalam ruangan pelantikan merupakan kewenangan protokoler atau bagian kehumasan, bukan ajudan.
Ia juga menegaskan bahwa beberapa ajudan lain yang berada di lokasi tidak melakukan teguran dan tetap membiarkan wartawan mengambil gambar sesuai arahan protokoler.
Usai prosesi pelantikan, ia bersama sejumlah awak media mengikuti sesi wawancara cegat (doorstop). Ia mengakui sesi tersebut berlangsung lancar tanpa kegaduhan sebagaimana diberitakan beberapa media lain.
Namun, saat merekam wawancara menggunakan telepon genggam, ia mengaku mengalami perlakuan kurang menyenangkan. Dari beberapa perangkat wartawan yang aktif merekam, hanya ponselnya yang terdorong hingga mati.
Merasa situasi tidak lagi kondusif, Amrillah memilih meninggalkan lokasi doorstop. Di area parkir, ia kembali menegur ajudan yang sebelumnya memanggilnya dengan sebutan yang dianggap tidak pantas.
Saya hanya ingin dihargai sebagai wartawan yang sedang bertugas. Kalau ajudan lain memanggil saya dengan sebutan yang baik, saya pun membalas dengan sopan,” ungkapnya.
Ia menegaskan bahwa dirinya tidak mempermasalahkan tugas pengamanan ajudan.
Namun menurutnya, posisi ajudan semestinya berada di belakang atau menjaga sterilisasi situasi, bukan berdiri di samping kepala daerah saat sesi wawancara, agar tidak mengaburkan fokus publik terhadap pejabat yang sedang memberikan keterangan.
Sebagai perbandingan, ia mencontohkan dalam beberapa kesempatan wawancara Gubernur dan pejabat kepolisian, (Kapolres ) bisa di perhatikan ajudan atau pengawal biasanya mengambil posisi di belakang demi menjaga situasi tetap kondusif tanpa mengganggu jalannya wawancara.
Amrillah berharap ke depan ada evaluasi internal di institusi mereka agar sinergitas antara pemerintah daerah dan insan pers tetap terjaga dengan baik.
Kalau komunikasi tidak berjalan baik, bagaimana kepala daerah bisa semakin dekat dengan rakyatnya?” pungkasnya.(DQ74)











Komentar