Kondisi ini memunculkan kekhawatiran tentang apatisme, khususnya di kalangan pemilih muda dari generasi milenial dan Gen Z.
“Partisipasi pemilih muda sangat rendah. Padahal, saat Pilpres dan Pileg, mereka terlihat antusias,” ungkap seorang petugas TPS di Kota Palu.
Dugaan Skenario Politik
Hengky Idrus, anggota Tim Relawan BERAMAL, menyebut fenomena ini sebagai bagian dari ‘skenario besar’ yang diduga sengaja dibuat untuk menekan partisipasi pemilih.
“Kami menduga ada gerakan sistematis yang membuat banyak warga tidak bisa memilih,” ujarnya.
Data Partisipasi Pemilih
Berdasarkan rekapitulasi real count BSPN PDI Perjuangan, berikut rincian jumlah warga yang tidak memilih di 12 kabupaten dan 1 kota:
Banggai: 59.851
Poso: 55.269
Donggala: 61.688
Tolitoli: 51.114
Buol: 21.299
Morowali: 29.337
Banggai Kepulauan: 12.279
Parigi Moutong: 105.365
Tojo Una-Una: 27.176
Sigi: 53.092
Banggai Laut: 7.118
Morowali Utara: 36.411
Kota Palu: 102.629
Hanya tiga kabupaten, yakni Buol, Banggai Kepulauan, dan Banggai Laut, yang mencatat tingkat partisipasi di atas 80 persen.
Evaluasi dan Harapan
Minimnya sosialisasi dari KPU menuai kritik tajam dari masyarakat. Banyak yang berharap ke depan KPU dapat lebih efektif dalam menyampaikan informasi agar tidak ada warga yang kehilangan hak pilih hanya karena kendala teknis.
“Pilkada harus menjadi pesta demokrasi yang inklusif bagi semua, bukan malah menimbulkan kekecewaan,” ujar seorang pengamat politik di Palu.
Pilkada 2024 ini memberikan pelajaran penting bagi semua pihak untuk memperbaiki persiapan dan komunikasi demi menjaga kepercayaan masyarakat terhadap proses demokrasi.
Baca: KPU RI Tegaskan Data Sirekap Bukan Dasar Penetapan Pemenang Pilkada









Komentar