gNews.co.id, Gorontalo – Di tengah Teriknya Panas matahari searah semarak penyelenggaraan Pekan Nasional (PENAS) Petani Nelayan XVII Tahun 2026 di Gorontalo, perhatian publik tertuju pada kehadiran para pejabat negara, tamu kehormatan, dan berbagai agenda nasional yang berlangsung meriah.
Namun, di balik kemegahan itu, ada satu sosok yang berjalan sederhana tanpa pengawalan, tanpa sorotan berlebihan, tetapi menyimpan jejak sejarah yang tak mudah dihapus.
Ia adalah Prof. Dr. Ir. H. Nelson Pomalingo, M.Pd., mantan Bupati Gorontalo dua periode yang dikenal sebagai salah satu tokoh yang berperan dalam proses awal hingga Gorontalo dipercaya menjadi tuan rumah PENAS XVII Tahun 2026.
Pada 24 Juni 2026, Prof. Nelson tampak mendampingi Menteri Koordinator Bidang Pangan, Zulkifli Hasan, dalam kunjungan kerja meninjau Panen Raya Jagung di Kecamatan Pulubala, Kabupaten Gorontalo. Penampilannya sederhana, hanya membawa sebuah kacamata dan buku catatan kecil.
Tidak ada lagi pengawalan resmi sebagaimana saat masih menjabat sebagai kepala daerah.
Namun, bagi sebagian masyarakat Gorontalo, kesederhanaan itu justru menjadi pengingat bahwa sejarah besar sering kali dibangun oleh mereka yang bekerja jauh sebelum panggung megah berdiri.
Sebagai Bupati Gorontalo selama dua periode (2016–2021 dan 2021–2025), Nelson Pomalingo bersama jajarannya mengawali berbagai komunikasi, koordinasi, serta menyatakan kesiapan daerah untuk menjadi tuan rumah PENAS XVII.
Upaya tersebut menjadi bagian penting dalam perjalanan hingga Gorontalo akhirnya memperoleh kepercayaan menyelenggarakan agenda nasional yang menghadirkan ribuan peserta dari seluruh Indonesia.
Kini, manfaat penyelenggaraan PENAS mulai dirasakan. Perputaran ekonomi meningkat, sektor UMKM memperoleh peluang usaha lebih luas, tingkat hunian penginapan meningkat, dan aktivitas perdagangan masyarakat ikut bergairah.
Dampak ekonomi inilah yang sejak awal menjadi salah satu harapan besar ketika Gorontalo memperjuangkan status sebagai tuan rumah.
Meski masa jabatannya telah berakhir dan estafet kepemimpinan telah diserahkan kepada Bupati Gorontalo yang baru, Sofyan Puhi, nama Nelson Pomalingo tetap menjadi bagian dari perjalanan sejarah PENAS XVII. Perannya merupakan bagian dari proses panjang yang berkontribusi terhadap terselenggaranya kegiatan tersebut.
Sejarah memang tidak selalu ditulis oleh mereka yang berada di atas panggung. Kadang, sejarah justru lahir dari ruang-ruang rapat yang sunyi, dari gagasan yang diperjuangkan bertahun-tahun, dan dari keberanian mengambil keputusan ketika hasilnya belum tentu dapat dinikmati saat itu juga.
Prof. Nelson Pomalingo adalah seorang akademisi, profesor, sekaligus mantan kepala daerah yang memilih menanam fondasi. Hari ini, masyarakat menikmati hasilnya melalui suksesnya penyelenggaraan PENAS XVII di Gorontalo.
Pada akhirnya, penghargaan terhadap sebuah sejarah bukanlah soal siapa yang paling banyak tampil di depan kamera, melainkan bagaimana setiap kontribusi dikenang secara proporsional. Sebab setiap keberhasilan besar selalu memiliki para perintis yang bekerja dalam diam.
Langkah Prof. Nelson Pomalingo di tengah keramaian PENAS menjadi pengingat bahwa setiap kejayaan memiliki akar. Dan akar itulah yang menjaga sebuah pohon tetap berdiri kokoh meski sering kali tak terlihat oleh mata.
Opini ini merupakan interpretasi Oleh Penulis MJR. mengenai kontribusi tokoh dalam proses penyelenggaraan PENAS XVII Gorontalo dan tidak dimaksudkan sebagai penetapan fakta tunggal atas peran seluruh pihak yang terlibat.(DQ74)














Komentar