Walaupun pada akhirnya sejumlah pakar berspekukasi bahwa tsunami yang terjadi pada tanggal 28 September yang lalu merupakan peristiwa longsoran sedimen di dasar laut yang ditimbulkan oleh gempa bermagnitudo tinggi (Tribun News 29/09/2018).
Ajal dan bencana merupakan suatu keniscayaan yang bisa saja terjadi di mana saja dan kapan saja jika dikehendaki oleh Allah SWT sebagai Maha Pencipta.
Bencana dan fenomena alam yang di luar nalar ilmuwan geologi mungkin bisa terlihat pada tragedi bencana Gempa, Tsunami dan Likuefaksi di wilayah PASIGALA.
Sejumlah saksi yang selamat menceritakan pengalaman mereka. Dan menurut mereka teknologi secanggih apapun tidak akan mampu mengatasi bencana dasyat dan kompleks tersebut sehingga tentu penjelasan teologi (agama) mutlak dibutuhkan.
Dan ini berarti bahwa ada suatu kekuatan yang bisa menggerakkan sehingga terjadinya bencana melalui fenomena alam masyarakat alami terjadi di wilayah Palu, Sigi dan Donggala.
Tiga tahun pascabencana, haruslah dijadikan refleksi akan pentingnya bersahabat dengan Alam dan percaya dengan Allah sebagai pencipta Alam ini.
Jadikan setiap bencana bukan sebagai hantu yang menakutkan tapi sebagai pelajaran dan teguran agar kita tidak lupa diri dan apalagi lupa dengan Sang Pencipta Alam.
Banyak negara yang pernah hancur dan terpuruk akibat dilululantahkan oleh bencana tapi bisa bangkit kembali dan menjadi maju karena mereka tidak menganggap bencana itu sebagai hantu yang harus dihindari.











Komentar