Pemerintah menyiapkan rencana tanggap darurat (Contingency Plan) yang matang. Selalu menyiapkan mitigasi bencana yang handal dan mumpuni.
Masyarakat tentu harus menyadari dan menerima kenyataan bahwa Indonesia berada di cekungan jalur gempa, cincin api (Ring of Fire) dikelilingi oleh daerah tapal kuda sepanjang 40.000 km dan terdapat tiga lempeng raksasa yaitu sebelah utara ada lempeng Eurosia, sebelah selatan ada lempeng Indo-Australia dan sebelah timur ada Lempeng Pasifik.
Wilayah ini sering mengalami gempa tektonik dan gempa vulkanik. Menurut BMKG, dari 90 persen gempa bumi dan 80 persen Gempa terbesar di dunia terjadi di wilayah cincin api.
Gempa bermagnitudo 7,4 di Donggala dan getarannya berdampak signifikan di wilayah Palu dan Sigi disebabkan oleh pergerakan Sesar Palu-Koro. Pergerakannya adalah sesar mendatar (slide-slip). Artinya, antara lempeng bumi satu dan lempeng bumi lain bergerak sejajar (Detiknews,28/09/2018).
Banyak pakar geologi dunia tidak memperkirakan akan terjadi tsunami pasca terjadinya gempa dasyat di wilayah Palu, Sigi dan Donggala karena menurut kajian kegempaan dan tsunami, pergerakan sesar secara horizontal tidak lazim menimbulkan tsunami.
Umumnya, tsunami bisa terjadi ketika gempa berada di zona subduksi atau pertemuan dua lempeng, episentrum pada kedalaman kurang dari 70 kilometer, dan adanya gerakan sesar vertikal (Kompas, 01/08/2018).
BNPB sebut empat likuifaksi terjadi di wilayah terdampak PASIGALA yaitu Keluarahan Balaroa Kecamatan Palu Barat, Kelurahan Petobo Kecamatan Palu Selatan, Desa Jono Oge dan Desa Sibalaya Kabupaten Sigi (Tempo, 01/10/2018).
Dua kelurahan yang terdampak bencana likuifaksi memiliki populasi pemukiman penduduk yang padat dan banyak menelan korban jiwa dan harta benda.











Komentar