Perang Tarif akan Menular ke Penyedia Layanan Fixed Broadband?

Sementara itu, di sisi lain perizinan yang diberlakukan dinilai cukup rumit. Padahal akses internet kini sudah menjadi kebutuhan utama masyarakat, apalagi sejak pandemi COVID-19. Sehingga seharusnya penyedia jaringan di Tanah Air diberikan keleluasaan.

Meski persaingan kini menjurus ketat, Uday berharap agar penyedia jasa fixed broadband tidak semata mengandalkan tarif murah sebagai instrumen utama dalam menarik pelanggan. Pasalnya, tarif murah akan menjadikan industri startegis ini menjadi tidak sehat.

Uday menambahkan, belajar dari persaingan tarif di industri selular di Indonesia yang membuat operator berdarah-darah. Karena itu, kunci untuk untuk bisa tetap survive melayani pelanggannya, operator perlu menerapkan tiga strategi secara konsisten.

Pertama, penerapan tarif harus affordable. Tidak berarti harus murah tapi terjangkau oleh masyarakat. Jika terlalu murah namun tidak wajar, maka selintas bagus untuk konsumen. Namun itu hanya bersifat jangka pendek, karena jangka panjangnya operator terancam bangkrut.

Kedua, harus sustainable. Artinya, industri harus sustain atau berkelanjutan. Operator yang beroperasi harus mampu bertahan. Karena jika collapse, masyarakat juga akan dirugikan. Ketiga, harus merata. Artinya, operator harus membangun di semua wilayah sehingga ketersediaan layanan menjadi merata.

Saat ini kondisinya belum semua operator melakukan pembangunan yang merata di semua wilayah di Indonesia, sesuai lisensi yang dimiliki. Padahal akses internet yang merata dapat mendorong pertumbuhan ekonomi di seluruh wilayah Indonesia.

Mahalnya pembangunan serta pemeliharaan infrastruktur jaringan internet tentu saja juga dirasakan oleh semua operator fixed broadband, tak terkecuali IndiHome. Penyedia layanan fixed broadband dari Telkom ini memiliki coverage area yang terluas di Indonesia, bahkan di 10 pulau terluar di Indonesia.

Komentar