Pada akhir 2022, ditemukan lagi ada sapi di Desa Ponggerang, Kecamatan Dampelas yang terinfeksi, dan pada 2023 ini ditemukan lagi di Desa Balintuma.
“Dan ini yang massif, karena 90 persen sapi di satu kampung itu terifeksi PMK,” ungkapnya.
Celakanya lagi, sebut Nasir Husen, sapi-sapi dari Pantai Barat itu sudah masuk ke Palu.
Artinya, petugas check point (titik pemeriksaan) di pintu masuk Pantoloan tidak tegas, sehingga sapi dari Pantai Barat itu bisa lolos masuk ke Palu.
“Kami menerima laporan, Sabtu, 4 Februari 2023 kemarin, sebanyak tiga truk sapi yang berhasil masuk Palu,” jelas Nasir Husen.
Memang, lanjut dia, berdasarkan penjelasan dari Disbunnak Sulteng, tidak terlalu berbahaya bagi masyarakat mengonsumsi daging sapi yang terinfeksi PMK.
Tetapi bagi yang mengonsumsi jeroannya itu dianggapa sangat berbahaya.
“Tapi dampak lain dari PMK ini adalah para peternak kecil di Kota Palu yang kehidupan sehari-harinya bergantung pada margin penjualan sapi,” ujar Nasir Husen.
Dia mengatakan, akan sangat banyak peternak kecil yang merugi, karena ada ketakutan akibat wabah PMK.
Padahal, peternak sapi di Palu rata-rata memelihara sapi super, sedangkan sapi di Pantai barat yang terifeksi PMK adalah jenis Sapi Bali.
Menurut dia, seharusnya seluruh sapi di Pantai Barat itu diisolasi, kemudian yang terinfeksi PMK dimusnahkan, dan yang masih sehat diberikan vaksin agar tidak tertular PMK.
Baca: Wali Kota: Potensi Penerimaan Daerah dari Parkir Belum Termanfaatkan Baik














Komentar