Sepengetahuan dia ketika berhenti kerja, yang tertinggal hanya jaminan pekerjaan saja yang dananya tersisah.
Dalam persoalan ini, bisa dibayangkan betapa carut marutnya perjalanan proyek yang didanai dari pinjaman Bank Dunia melalui program Contigency Emergency Response Project (NSUP) dan kegiatan Central Sulawesi Rehabilitation and Recontrion Project (CERC).
Ia berharap sudah sepatutnya institusi yang berwenang bergegas turun tangan melakukan audit total di proyek yang sudah mengeruk kas negara.
Di mana sejak awal perencanaannya terkesan berantakan. Alih-alih dengan anggaran yang digelontorkan untuk mendapatkan bangunan gedung baru, justru program ini terbukti bermasalah di sejumlah wilayah dan terkesan proyek tersebut dipaksakan untuk di Provisional Hand Over (PHO).
“Itu sekolah sudah dikurangi 1 unit, yaitu SD Insan Gemilang, dan banyak item dihilangkan tapi anggaranya bukan turun malah dari kontrak awal jadi Rp 43 miliar,” katanya.
Menurut Mahfud, yang paling fatal, uang pembayaran penyelesaian bukan mengalir ke vendor lagi tapi ke rekening orang lain. Ia mengaku punya bukti.
Mahfud membeberkan sejumlah kerumitan proyek yang sudah diadendum sebanyak empat kali itu.
Baca: Kejati Sulteng Tetapkan Dua Tersangka Dugaan Korupsi Jalan di Balut, Berikut Profesi dan Jabatanya








Komentar