Ia mengaku sebagi subkon mengerjakan 16 unit sekolah, Erwin Lamporo 2 sekolah, jadi total bangunan hanya 18 sekolah saja. Sudah hilang 1 bangunan sekolah, bukan berkurang kontraknya tapi malah lebih besar.
“Kalau sekarang saya kurang tau, waktu saya disingkirkan semua tidak ada yang selesai. Tapi saya liat sudah dikerjakan lagi,” tutur Mahfud.
Hasil penelusuran tim media yang dilansir dari Berantas.id dengan sejumlah sumber di lapangan terkoneksi keterangan para subkon. Ini menunjukan bahwa sejumlah persoalan rumit menyelimuti proses pelaksanaan rehabilitasi dan rekontruksi fasilitas pendidikan dasar fase 1B.
Di sejumlah proyek sekolah yang tersebar di Kota Palu dan Kabupaten Sigi misalnya, bangunan sekolah belum ada yang rampung 100 persen, bahkan para pekerja proyek pernah mencopot sejumlah aset fasilitas gedung yang baru terpasang ketika itu.
Alasanya, pihak kontraktor pelaksana PT. SMI belum melakukan pembayaran terhadap pihak pekerja.
Proyek rehab rekon Fasilitas Pedidikan Dasar Fase 1B di Kota Palu dan Kabupaten Sigi menggunakan metode kontruksi pendekatan cara Build Back Better dengan membangun kerentanan terhadap bencana sebenanrya tidak berpolemik jika ini dikerjakan dan diawasi secara serius.
Baca: KPK tak Takut Jika Anies Terbukti Rugikan Negara, Alexander: Kenapa Harus Takut









Komentar