BENCANA ALAM DARI PERSPEKTIF TEOLOGI, DAN DARI KONTEKS ILMU PENGETAHUAN DAN TEKNOLOGI
Sebagai masyarakat yang beragama dan berpendidikan, tentu aspek teologi dan teknologi serta pendekatan ilmu geologi harus menjadi pertimbangan, renungan dan analisa.
Bencana seperti gempa dan tsunami dalam agama Islam misalnya, bisa dilihat dalam Alquran Surah Al Zalzalah Ayat 1 dan 2 secara jelas disebutkan “Apabila bumi diguncangkan dengan dasyat dan bumi mengeluarkan beban-beban berat yang dikandungnya”.
Dan terkait dengan tsunami dapat dilihat pada Alquran Surah Al Infithar ayat 3 “Apabila Air Laut Menjadi Meluap” dan Surah At Takwiir ayat 6 “Apabila Laut Dipanaskan”.
Dan Allah mengisahkan peristiwa Likuefaksi dalam Surah Al-Qashshash ayat 81 “Maka Kami benamkan dia (Qarun) bersama rumahnya ke dalam bumi. Maka tidak ada baginya satu golongan pun yang akan menolongnya selain Allah, dan dia tidak termasuk orang-orang yang dapat membela diri.”
Pasca terjadinya bencana maha dasyat, masyarakat menjadi sadar dan lebih taat. Masjid dan rumah-rumah ibadah semakin ramai.
Umat yang terdampak mungkin semakin sadar bahwa bencana yang barusan melululantahkan wilayah PASIGALA tidak bisa hanya dilihat dari perspektif ilmu pengetahuan (Geologi, Fisika Bumi dan Teknologi) tapi aspek juga aspek teologi (agama) tentu juga harus dijadikan sebagai referensi.
Sampai detik ini belum ada satupun teknologi dan ilmu kegempaan termasuk ilmu Sesmiology, Geofisika, maupun ilmu geologi yang mampu menentukan secara akurat kapan akan terjadinya siklus gempa yang bermagnitudo signifikan termasuk gempa megatrust.
Baca: BMKG: Sulteng Siaga Hujan Lebat, Dampaknya Potensi Banjir














Komentar