Palu Pilu Palu Luka Palu Berduka, Reflekasi Empat Tahun Mengenang Gempa Bumi Dahsyat

Oleh pakar tsunami dikatakan penyebab tsunami di Teluk Palu akibat Longsoran sedimen bebatuan besar yang telah berpulu – puluh tahun mengendap di dasar laut Teluk Palu, dan terjadi longsor seketika itu akibat guncangan dahsyat.

Dalam berbagai literatur dan sejumlah artikel di media mainstream dijelaskan bahwa tsunami bisa timbul akibat gempa dahsyat bermagnitudo minimal 6,0 skalarichter dan terjadi gempa bumi, karena pergerakan lempeng bumi yang dikategorikan subduksi, juga tsunami bisa ditimbulkan oleh longsoran sedimen di dasar laut seperti yang terjadi di Teluk Palu empat tahuh lalu.

Dan yang terakhir tsunami terjadi akibat jatuhnya batu astroid dari angkasa dan bisa menimbulkan gelombang tsunami setinggi 100 meter.

Oleh sejumlah pakar berpendapat bahwa punahnya dinaosaurus dari muka bumi akibat jatuhnya batu astroid. Dan rekam jejak geologi telah ditemukan di wiliyah Suriah.

Empat tahun lalu terjadi longsoran di beberapa titik di sekitar Teluk Palu sehingga menimbulian gelombang tsunami dan terjangan air bah ke daratan wilayah sekitar pesisir teluk dan bahkan juga wilayah Wani juga terdampak.

Hanya dalam waktu sekitar tiga menit gelombang tsunami mampu menyapu bersih semua yang ada di tepi pantai Teluk Palu dalam radius sampai sekitar 200 meter dari bibir pantai.

Cepatnya gelombang tsunami menerjang pesisir pantai sehingga sangat sulit dihindari masyarakat yang sedang berada di sekitar Teluk Palu akibatnya banyak korban jiwa.

Di sisi lain terjadi fenomena tanah likuifaksi di dua kelurahan dan tentu berbeda kasusnya. Likuifaksi ternyata juga jauh lebih berbahaya, karena protokol keselamatan konvensional dan teori yang diajarkan di seluruh dunia tidak berlaku, misalnya untuk bisa terhindar dari ancaman tanah liquifaksi harus mengikuti protokol keselamatan.

Seperti diajarkan dan menurut teori ketika terjadi gempa dahsyat, masyarakat harus berlindung di bawah meja atau lari ke tanah lapang. Atau mencari sudut bagian bangunan yang bisa ada celah (triangle of life) untuk selamat dari reruntuhan, tapi teori ini justru terbalik dan bertentangan dengan kondisi di wilayah yang terdampak lijuifaksi seperti di Keluarahan Balaroa.

Baca: FETE DE LA MUSIQUE

Komentar