Palu Pilu Palu Luka Palu Berduka, Reflekasi Empat Tahun Mengenang Gempa Bumi Dahsyat

Di sana justru banyak masyarakat yang lari tanah lapang dan tiba – tiba lapangan tempat mereka berlindung seketika amblas akibat fenomena likuifaksi tanah berubah jadi lumpur dan seketika itu mengubur banyak masyarakat yang ada di atasnya dan kemudian terseret oleh gelombang lumpur tanah likuifaksi.

Waktu terjadi gempa di dua kelurahan yang jadi korban fenomena likuifaksi, oleh pakar geologi dan fisika bumi yang bisa anda tonton ratusan penjelasan pakar di video youtube dengan penjelasan detil dan sangat lugas, dan mudah dipahami karena menggunakan contoh dan animasi.

Berbagai pakar menjelaskan bahwa tanah jenis likuifaksi memiliki struktur lapisan tanah yang terdiri air (aquifier) di dasar, lapisan pasir halus dan lapisan tanah yang di permukaan tidak tebal tanahnya, tapi hanya sekitar dua atau tiga meter sehingga ketika terjadi goncangan dahsyat gempa bumi selama lebih dari 20 detik dan secara berulang, maka tanah akan berubah menjadi bubur atau seperti lumpur dan air dari dalam tanah akan naik ke permukaan.

Ketika terjadi fenomena tanah likuifaksi, semua yang ada di permukaan akan tenggelam dan atau hanyut karena ke dua wilayah tempat terjadinya tanah likuifaksi baik di Kelurahan Balaroa maupun di Keluruhan Petobo berada di kemiringan, sehingga benda apa saja yang berada di permukaan ketika itu akan bergerak dan kelihatan seolah-olah hanyut dan bangunan atau benda di atas akan saling tindih satu sama lainnya.

Sebelum terjadinya gempa bumi dahsyat empat tahun lalu, Tim Ekspedisi Palu Koro yang terdiri dari ahli geologi dan fisika bumi dari Jakarta sempat berkunjung ke pemerintah setempat dan menjelaskan ancaman bisa sewaktu-waktu terjadi akibat aktivitas Sesar Palu Koro menjelang Ulang Tahun ke – 100.

Juga sebelumnya pernah ada penelitian tentang lokasi tanah jenis likuifaksi, tapi hasil penelitian yang sempat viral itu dianggap kurang akurat dan tidak tindaklanjuti.

Sekitar tahun 2012 Pemerintah Kota Palu pernah mengadakan simulasi dan contingency plan di wilayah sekitar penggaraman dan tempat terjadinya tsunami.

Simulasi gempa dan tsunami konon mirip apa yang terjadi tanggal 28 September lalu. Namun, menurut sejumlah aktivis NGO bahwa dokument contingency plan itu belum sempat ditindaklanjuti sesuai harapan ketika gempa dahsyat itu terjadi.

Baca: Waspadai Gelombang Tinggi Laut Sulawesi dan Sejumlah Perairan di Indonesia

Komentar